Senin, 05 Oktober 2009

MANAJEMEN MEDIA LONCENG KEMATIAN INDUSTRI MEDIA MASSA CETAK

MANAJEMEN MEDIA

LONCENG KEMATIAN INDUSTRI MEDIA MASSA CETAK
Saya terkejut ketika membaca tentang salah satu artikel Susanto Pudjomartono yang diterbitkan Tempo edisi 5 April 2009. Media cetak Amerika sudah berjatuhan bangkrut. Bayangkan saja media cetak sebesar Chicago Tribune sekarang gulung tikar dan memutuskan hanya menerbitkan versi onlinenya, bahkan seniornya yang sudah berumur 176 tahun, Post-intelligencer juga mengikuti langkah Tribune.
Sebenarnya apa yang menyebabkan mereka gulung tikar? ternyata keberadaan media elektronik yaitu televisi dan internet yang menggesernya. 70% warga Amerika merupakan pendengar televisi dan 40 % lainnya yang rata-rata berusia dibawah 30 tahun menggunakan reverensi internet (media online) untuk mendapatkan berita nasional dan internasional. Disini kekuatan televisi memang masih lebih tinggi dari pada internet, namun setidaknya naiknya audience media online di Amerika sebesar 24 % dari tahun 2007 menjadi 40% di tahun 2009 menjadi pendorong pergeseran audience media cetak ke elektronik. Fenomena perkembangan blogger dan citizen online journalism yang begitu pesat di negara maju juga menjadi pemicu berkurangnya audience media cetak.
Lalu di Indonesia apakah keberadaan internet sudah mengancam media cetak? Sedikit berbeda dengan media online di Amerika, media online di Indonesia masih didominasi oleh media online yang diinduk dari media tradisional seperti kompas.com, suaramerdeka.com, liputan6.com atau thejakartapost.com. Media online yang berdiri tanpa bantuan media tradisional masih terbatas pada media online penyedia berita stright news seperti detik.com dan kini sudah disusul oleh okezone.com. Meski demikikian, bisa dibilang media online saat ini sudah mulai mengembangkan sayap di Indonesia. Jika kita pesimis pada penggunaan internet via laptop atau PC, masyarakat indonesia kini sudah dimasuki oleh teknologi internet via handphone. HP sendiri sekarang sudah memiliki fitur yang memungkinkan pemiliknya mengakeses internet dengan cepat dan murah.
Jika mengatakan dalam waktu dekat Indonesia akan mengikuti jejak Amerika mungkin memang masih terlalu dini. Pertama mungkin karena perkembangan teknologi internet di Indonesia belumlah sepesat Amerika. Pengguna internet juga masih terbatas yaitu sekitar 25 persen dari penduduk Indonesia dengan angka penetrasi hanya sekitar 10 persen. Hanya saja jangan juga optimis media cetak di Indonesia akan terus eksis karena saat ini tanda-tanda pergeseran dari penggunaan media cetak ke online juga terlihat jelas. Lihat saja kemunculan e-mobile, e-paper dan hampir semua media cetak besar di Indonesia sudah memiliki website.
Di Indonesia kematian media cetak sempat juga menjadi wacana. Bahkan beberapa pengusaha koran sempat panik karena jumlah kopi surat kabar yang dijual tak bergerak. Bahkan kelompok Jawa Pos mendeklarasikan 20 surat kabar telah mati. Sementara yang lain ’berdarah-darah’ karena ditinggalkan pembaca dan pemasang iklan. Surat kabar sekaliber Kompas pun, seperti diungkapkan Jacob Oetama, menilai media cetak belum pernah menghadapi tantangan yang begitu besar, kecuali sekarang. Dia mengingatkan bahwa dunia sedang berubah secara cepat karena revolusi teknologi. Kemajuan teknologi informasi telah membuat posisi media cetak makin tersudutkan.
Apakah era media cetak akan berakhir? Akankah tak ada yang tahu masa depan buku nanti seperti apa. Yang pasti, dulu ketika televisi hadir, ramalan tentang kematian media cetak sudah didengung-dengungkan. Tetapi hingga kini media cetak tetap menjadi acuan utama publik. Bukan televisi, apalagi internet. Di samping itu juga ada beberapa “kelebihan” buku sebagai kekuatan budaya dibandingkan dengan media lain, yaitu 1) buku menjembatani jarak sejarah, 2) buku memberikan kedalam, 3) menyajikan informasi yang terpercaya, 4) buku mudah dibaca kapan dan dimana pun. Setidaknya itu yang masih dirasakan sekarang ini. Apalagi kalau mengingat masalah perbukuan dan minat baca masyarakat Indonesia. Tetapi memang, masa depan adalah masa yang terbuka untuk berbagai kemungkinan. (randy)
Catatan :
TUGAS MANAJEMEN MEDIA

NAMA : RANDHI YUSTIADI WID

NIM : 153060057
KELAS : A / IK